SELAMAT DATANG DI BLOG MUHBIB ABDUL WAHAB

15 Nov 2010

Berkurban Itu Bentuk Manisfestasi Rasa Syukur

Ditulis oleh Muhammad Nurdin

Bulan ini merupakan bulan bersejarah bagi umat Islam. Pasalnya, di bulan ini kaum muslimin dari berbagai belahan dunia melaksanakan rukun Islam yang kelima. Ibadah haji adalah ritual ibadah yang mengajarkan persamaan di antara sesama. Dengannya, Islam tampak sebagai agama yang tidak mengenal status sosial. Kaya, miskin, pejabat, rakyat, kulit hitam ataupun kulit putih semua memakai pakaian yang sama. Bersama-sama melakukan aktivitas yang sama pula yakni manasik haji yang dilanjutkan dengan Idul Adha atau hari berkurban. Idul Adha dan peristiwa kurban yang setiap tahun dirayakan umat muslim di dunia seharusnya tak lagi dimaknai sebatas proses ritual, tetapi juga diletakkan dalam konteks peneguhan nilai-nilai kemanusiaan dan spirit keadilan, sebagaimana pesan tekstual utama agama. Untuk lebih jauh lagi memhbahas hal itu, berikut wawancara Muhammad Nurdin dari UIN Online dengan Pembantu Dekan Bidang Kemahasiswaan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) Dr Muhbib Abdul Wahab di ruang kerjanya, Jumat (12/11).

Apa makna Idul Adha bagi umat Islam?
Idhul Adha artinya hari raya kurban, dalam bahasa Arab itu ada tiga istilah yang digunakan untuk menunjuk arti kurban. Ada istilah kurban itu sendiri, udlhiyah yang kemudian diambil untuk istilah Idhul Adha, dan an-Nahr, ketiga makna ini yang saling berdekatan. Pertama an-Nahr artinya menyembelih binatang. Kedua udlhiyah yang artinya binatang sembelihan, dan ketiga kurban yang artinya penyembelihan hewan kurban itu sendiri bertujuan semata-mata untuk mendekatkan diri pada Allah.

Menurut hemat saya, berkurban itu bukan hanya semata-mata menyembelih atau mengalirkan darah tetapi bagaimana dengan berkurban orang itu bisa lebih mendekatkan diri kepada Allah dan sekaligus mendekatkan diri kepada sesama. Itu esensi yang paling utama.

Ada makna lain?
Makna lain dari berkurban adalah berkurban merupakan manisfestasi dari rasa syukur seorang mukmin atas pemberian rahmat dari Allah. Oleh karena itu, ketika Allah mewajibkan untuk berkurban maka dengan segera lah kita laksanakan. Dalam al-Qur’an surah al-Kautsar ayat 1-3 sudah dijelaskan tentang anjuran untuk berkurban itu sendiri.

Nah, dalam hal ini saya cenderung berpendapat bahwa kurban itu hukumnya wajib “bagi yang mampu” karena dua alasan. Pertama, perintah shalat dan perintah berkurban itu disandingkan “setara”, jadi jangan disimpulkan shalatnya wajib lantas perintah berkurban itu di tinggalkan atau disimpulkan sunah muakkadah. Hal ini sesuai dengan pendapat Imam Hanafi bahwa berkurban itu wajib.

Kedua, dalam hadits Nabi yang artinya “ barang siapa yang mempunyai kelapangan rizki tetapi tidak berkurban maka jaganlah sekali-kali orang itu mendekati masjid atau musholla kami”. Hadits ini menunjukan adanya kewajiban untuk berkurban. Selain itu, bahwa shalat sebagai ibadah ritual dan personal tidak bisa dipisahkan dari ibadah kurban sebagai ibadah sosial. Saya ditegaskan sekali lagi, selain merupakan rasa syukur berkurban merupakan wujud dari manisfestasi ibadah personal ritual yang akan menjadi ibadah sosial.

Lantas, adakah keterkaitan antara berkurban dengan Ibadah Haji ?
Kaitannya sangat luar biasa. Karena ibadah dalam Islam selalu ada figur teladannya. Dalam kontek ini adalah Nabi Ibrahim AS. Idul Adha juga merupakan refleksi atas catatan sejarah perjalanan kebajikan manusia masa lampau, untuk mengenang perjuangan monoteistik dan humanistik yang ditorehkan Nabi Ibrahim. Idul Adha bermakna keteladanan Ibrahim yang mampu mentransformasi pesan keagamaan ke aksi nyata perjuangan kemanusiaan. Dalam konteks ini, mimpi Ibrahim untuk menyembelih anaknya, Ismail, merupakan sebuah ujian Tuhan, sekaligus perjuangan maha berat seorang Nabi yang diperintah oleh Tuhannya melalui malaikat Jibril untuk mengurbankan anaknya. Peristiwa itu harus dimaknai sebagai pesan simbolik agama, yang menunjukkan ketakwaan, keikhlasan, dan kepasrahan seorang Ibrahim pada titah sang pencipta.

Yang ingin saya tegaskan, bahwa pemfiguran atau pemodelan dalam konteks pelaksanaan ibadah baik ibadah ritual maupun sosial itu menjadi sumber energi atau motivasi bagi kita seperti Nabi Ibrahim. Kisah tersebut merupakan potret puncak kepatuhan seorang hamba kepada Tuhannya. Nabi Ibrahim mencintai Allah melebihi segalanya, termasuk darah dagingnya sendiri. Kecintaan Nabi Ibrahim terhadap putra kesayangannya tidak menghalangi ketaatan kepada Tuhan. Model ketakwaan Nabi Ibrahim ini patut untuk kita teladani.

Kaitan antara Idhul Adha dengan ibadah haji itu sangat erat sekali. Dalam surat al-Kautsar sudah ada penegasan bahwa antara shalat dan berkurban itu setara, yang semuanya itu bermuara semata-mata mengharapkan ridha Allah. Oleh karena itu, jika kita ingin berkurban maka yang muncul adalah berbagai godaan atau bujuk rayu syaitan. Hal ini sesuai dengan momentum pada tanggal 10 Dzulhijjah yang dilanjutkan dengan hari Tasyrik 11, 12, dan 13 Dzulhijjah dimana para jamaah haji diwajibkan melempar jumrah atau belenggu hidup ”melemper syaitan “ sebagai lambang untuk membuang sifat egois, sombong, sifat kebinatangan, riya dan takabur yang melekat pada diri manusia. Oleh karena itu, menyembelih bukan semata mengalirkan darah akan tetapi untuk menghilangkan tabiat buruk yang ada dalam diri kita.

Belum lama ini pemerintah telah menetapkan bahwa Idhul Adha jatuh pada tanggal 17 Nopember 2010, sementara di satu pihak ada yang menetapkan tanggal 16, lantas Bagaimana cara mensikapi perbedaan tersebut?

Ikhtilaf al-Ulama Rahmatun artinya perbedaan dikalangan ulama itu rahmat. secara pribadi lebih cenderung meyakini bahwa kebijakan pemerintah “moderat”. Disatu sisi ada yang mengatakan bahwa kebijakan pemerinah itu cukup moderat hal ini dapat dilihat dengan melibatkan ormas dan lain-lain. Tapi saya melihat begini, ada sesuatu yang masih menjadi dasar metedologis bahwa kalau bulan tidak bisa dilihat maka dasar penetapannya bisa digenapkan. Lantas yang jadi pertanyaan saya adalah apakah yang tidak bisa dilihat itu lantas tidak ada wujudnya pada waktu itu.

Kemudian begini, saya berusaha untuk rasional saja bahwa kita ini kaum yang sudah bisa menghitung beda dengan masa Nabi yang pada waktu itu intrumennya hanya ru’yah sebab pada waktu perintahnya hanya ru’yah saja. Secara pribadi saya cenderung, bahwa dasar penetapan itu okelah pake ru’yah tetapi bila bertentangan dengan hisab saya kira dengan alasan atau keilmuan bahwa hisab itu lebih akurat menurut saya yang rasional itu yang didahulukan sebab bukan pada wilayah ta’abudi akan tetapi sudah masuk pada taakuli. Nah disinilah penting nya ilmu pengetahuan berperan menentukan awal dan akhir bulan.

Dalam konteks ini saya tidak ingin mengatakan adanya dikotomi antara Muhammadiyah dan Nahdatul Ulama (NU) atau yang lainnya. Tapi setidaknya pemerintah bisa berfikir jernih, dan bijak. Jangan karena pemerintah “penguasa” di Kementrian Agama lantas cenderung ke pihak mayoritas yang ada di departemen agama saja, tanpa menengok kalangan minoritas. Terutama dalam konteks iklim di indonesia yang sulit diprediksi sering ada gangguan awan, dan seterusnya. Maka menurut hemat saya kedepan terutama dalam penentuan awal dan akhir ramadhan maupun haji harus ada kesepakatan awal terutama pada penetapan kriteria penetapan wujud hilal.

Menurut Anda, adakah bentuk kepekaan sosial di hari Kurban?
Ada, sebab kepekaan sosial bisa dibangun kapanpun dan dimana pun. Di awal saya sudah katakan bahwa ibadah personal maupun ibadah ritual itu harus membuahkan ibadah sosial yang diwujudkan dalam bentuk kepekaan, solidaritas, kesetiakawanan. Semua aktifitas ibadah dalam Islam itu bermuara pada kepekaan sosial. Misalnya shalat yang diakhiri dengan salam ”saling bersalaman”, puasa yang diakhiri dengan zakat fitrah, termasuk ibadah haji dirayakan dengan Idhul Adha dan ditindak lanjuti dengan berkurban.

Bentuk solidaritas kemanusiaan ini termanifestasikan secara jelas dalam pembagian daging kurban. Perintah berkurban bagi yang mampu ini menunjukkan bahwa kita harus senantiasa respek dan peduli terhadap fakir-miskin dan kaum dhu’afa lainnya. Di syari’atkannya kurban, kita dilatih untuk mempertebal rasa kemanusiaan, mengasah kepekaan terhadap masalah-masalah sosial, mengajarkan sikap saling menyayangi terhadap sesama.

Yang ingin saya tekankan adalah bahwa berkurban bukan semata-mata menyembelih hewan tetapi dengan kurban itu kita bisa memperdayakan orang-orang miskin. bagaimana hewan-hewan kurban sebelum di kurbankan itu sudah ada yang menangani dari mulai pengadaan hewan, peternakan, pencarian rumput sampai pendistribusian. Dari hewan kurban inilah bagaimana orang-orang miskin dapat diuntungkan, bahkan para fakir miskin akan naik status dari penerima hewan kurban naik statusnya menjadi muzakki atau mudhohi karena ekonominya sudah diberdayakan, atau dia sudah ikut sertakan dalam proses penyembelihan saja, akan tetapi dalam pengadaan hewan tersebut. Jadi, ibadah kurban ini mempunyai peluang yang cukup besar, untuk memberdayakan orang-orang miskin. Sejauh ini baru segelintir orang maupun lembaga yang baru memberdayakan fakir miskin untuk mengelola hewan kurban. Memang awalnya sulit dan sedikit yang kita terima, tapi akhirnya kita merasa puasa karena bisa membantu fakir miskin dengan meminjamkan modal untuk usaha ternak kurban.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar